saat itu aku melihatnya tengah duduk di dalam mobil sedan lama.
dia tengah asyik memperhatikan layar handphone di depannya.
mungkin ada pesan penting atau mungkin dia ingin menulis pesan kepada temannya.
aku tak begitu jelas, tapi mataku tetap ingin menatapnya.
dia tidak sadar akan tatapanku. saking sibuknya dengan handphone yang mungkin terus berdering.
di sampingnya sang supir mengemudi dengan sangat hati-hati.
begitu seriusnya orang itu, pikirku. sampai-sampai tak sempat melihat ke jalanan.
mobilnya melaju pelan, sedangkan aku terus menatapnya lewat kaca bening di dalam sini.
aku harap, mobil-mobil di depanku berjalan merayap.
agar aku masih punya waktu menatap dia.
lepas satu detik aku mengalihkan perhatianku darinya, dia menatap sekilas.
matanya melihat diriku, yang mungkin asyik bersandar karena kelelahan.
dalam hati aku berharap dia akan terus melihatku.
tak peduli seberapa banyak waktu yang dia punya.
aku suka wajahnya, aku suka hidungnya, aku suka keningnya, aku suka rambutnya, aku suka lekuk bibirnya.
begitu memikat, begitu indah, begitu penuh tantangan.
mengapa ada makhluk seindah dia.
namun sayang, dia tak sempat memperkenalkan dirinya padaku.
begitu pula aku, aku tak sempat berkenalan dengannya.
begitu cepat waktu berlalu.
sampai akhirnya kami harus melewati jalan berbeda.
sebenarnya aku selalu berdoa, suatu saat kami dapat bertemu lagi.
mungkin dengan keadaan yang lebih baik.
dengan situasi yang nyaman untuk memulai perbincangan
setidaknya cukup bagi kami untuk saling mengenal.
sesampainya di kantor, tak henti aku pandangi jalanan macet kota Jakarta.
berharap ada mobilnya sedang melaju.
memang konyol dan sedikit aneh.
mana mungkin aku bertemu dengannya lagi.
telepon di ruanganku berbunyi, ternyata ada klien ingin bertemu denganku.
tapi aku merasa tak ada janji hari ini dengan siapapun.
hari ini aku bermurah hati, jadi kuterima tamu tak diundang itu.
walaupun mungkin akan sangat membosankan.
"Selamat siang," ujarnya ramah dan sopan.
"Se..selamat siang," ujarku gugup.
"Maaf mengganggu waktu santai anda,"
"Ehmm, tidak apa-apa. Saya tidak terlalu sibuk hari ini,"
"Berarti hari ini saya beruntung,"
"Anda punya selera humor juga ternyata,"
"Kedatangan saya ingin membicarakan masalah saya kepada anda,"
"Kalau boleh tau, apa masalah anda?"
"Saya merasa lain dengan kebanyakan pribadi pada umumnya,"
"Lalu?"
"Apa saya perlu melakukan beberapa test psikologi?"
"Mungkin,"
"Kapan saya bisa menemui anda lagi untuk melakukan test tersebut?"
"Secepatnya, saya akan kabari anda,"
"Baik, saya tinggalkan kartu nama saya, disana ada nomor handphone yang bisa anda hubungi,"
"Terima kasih,"
jantung ini masih berdegup. mengapa doaku cepat terkabul? makhluk indah itu nampak jelas di hadapan saya, dan berbicara dengan saya. apa aku sedang bermimpi? aku sangat bingung dengan semua peristiwa ini.
betapa mengejutkannya, siang ini aku tak ingin melewatkannya dengan sia-sia. merasa ingin lebih mengenalnya, aku mengundangnya makan malam.
"Jika anda ada waktu, maukah makan malam dengan saya?"
"Tentu. Saya akan atur waktu,"
"Terima kasih, saya akan menunggu waktu anda,"
Aku mengantarnya hingga ke pelataran parkir. Terheran-heran asistenku melihat hal itu. Karena tak biasanya aku melakukan hal istimewa itu terhadap klien-klienku. Atau mungkin biasa disebut pasien-pasienku.
Ada rona merah di pipinya saat aku membukakan pintu untuknya. Ada kesan tersanjung. Dan aku tak tahu apa itu isyarat bahwa dia pun merasakan getaran dalam hatiku saat pertama berjumpa dengannya.
Mungkin aku akan melakukan pembuktiannya di pertemuan kedua kami.
siang hari ini aku termangu memandang layar ponsel yang dari tadi kupegang. gelisah dan menanti, itulah diriku di siang hari ini. ada keinginan untuk menghubunginya, ingin mengundangnya makan malam. tapi aku telah berjanji akan menunggu waktu luangnya. mungkin aku akan terkesan tidak sabar jika aku yang lebih dulu mengajaknya. hmm, begini hebatnya rasa ini. rasa yang tiba-tiba hadir dan mengusik hari-hariku. Sabrina, hanya satu nama itu yang selalu mengisi benakku.
masih dengan sikap menunggu, ponselku berdering, dan satu nama cantik terlintas disana. Sabrina! jantungku berdegup, nama yang dari tadi kuharapkan, kini nyata meneleponku. kuangkat telepon itu dengan tenang.
"Halo?"
"Halo,"
"Ini dengan Deni?" ujar suara di seberang sana dengan lembut dan sopannya.
"Iyah, saya Deni, maaf ini.."
"Saya Sabrina, anda masih ingat?"
"Ehmm.. Sabrina..?" ujarku seolah pura-pura tidak tahu, padahal bagaimana mungkin aku lupa dengan suara, wajah dan lekuk bibirmu Sabrina.
"Saya pernah datang satu kali ke kantor anda,"
"Ahh, ya. Tentu saya ingat bagaimana mungkin saya lupa dengan anda. Ada apa?"
"Ehmm, apa anda ada waktu hari ini?"
"Sepertinya...ada. Memang ada apa Sabrina?"
"Saya ingin mengundang anda makan malam, apa anda bisa?"
"Makan malam? Ah pasti anda menepati janji anda tempo hari," ujarku sambil sedikit tertawa.
"Iyah, saya harap anda bisa datang ke rumah saya malam ini pukul tujuh. Mengenai alamat, saya akan kirim melalui sms, agar anda mudah menyimpannya,"
"Baiklah saya akan datang tepat pukul tujuh ke rumah anda, sampai ketemu nanti,"
Dalam hidup mungkin ada yang namanya keberuntungan. dan mungkinkah ini keberuntungan saya? bertemu dengan wanita secantik Sabrina, wanita yang sopan dan membuat saya begitu terkagum-kagum.
sore ini saya pulang dengan hati riang. saya pergi ke toko bunga dan membeli seikat bunga untuk Sabrina. di dalam mobil saya bergumam dan tersenyum sendiri. seorang Sabrina bisa membuat saya berubah drastis. dari pribadi yang cuek, dingin, dan hanya memikirkan pekerjaan, kini saya mulai tertarik dengan pasangan. hmm, tapi saya takut, apakah Sabrina juga memiliki rasa yang sama dengan saya, batinku.
untuk menghilangkan jenuh, saya putar radio di mobil dan mendengarkan siaran radio ternama di kota ini. saat itu ada segmen curhat, yang menjadi favorit saya untuk didengarkan, selain lagu-lagu mancanegara. entah kenapa, saya begitu ingin membagi kisah saya dengan Sabrina. meski saya pun belum tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. akankah sempurna dan happy ending, ataukah harus sedih dan tragis, batinku.
kupasang headset di telinga dan mulai menghubungi radio tersebut.
"Halo, selamat sore, dengan siapa saya bicara?"
"Ehmm, saya.."
"Yap mohon agak dikeraskan yah suaranya, agar kita semua bisa denger suara kamu,"
"Ehmm, panggil saja aku De,"
"Okey De, ada curhatan apa nih yah?"
"Sebenernya aku nggak tau mau mulai darimana,"
"Ehmm, okey mungkin kamu bisa menceritakan tentang kehidupan kamu, pacar kamu, sekolah kamu, atau mungkin ada masa lalu yang ingin kamu bagi dengan para pendengar disini?"
"Okeh, aku ingin menceritakan tentang seseorang yang aku sukai. Aku bertemu dengan dia seminggu yang lalu. Hari itu, dia pertama kalinya memikat hati saya, dengan semua yang ada di dalam dirinya. Saya tertarik dengan dia dan berharap, kami bisa ketemu lagi di lain hari. Ternyata, kami dipertemukan lagi dan malam ini saya di undang makan oleh dia. Tapi..."
"Tapi kenapa, De?"
"Saya nggak tau apa dia juga perasaan yang sama dengan saya atau tidak,"
"Ehmm, kamu harus pede dong, dan tunjukkin kalau kamu melakukan yang terbaik untuk orang yang kamu suka itu. Setidaknya walau kamu nggak bisa jadian sama dia pun, kamu pernah mengisi hatinya dengan kenangan tentang kamu, siapa tau kalian bisa jadi sahabat kan?"
"Iya.. Anda benar. Saya akan tetap berjuang akan perasaan saya ini,"
"Nah gitu dong, okeh deh De, terima kasih banget loh buat curhatannya dan kita harap kamu bakal punya curhatan-curhatan selanjutnya tentang hubungan kamu dengan orang yang kamu suka itu, tapi tentunya nggak sekarang karena kita harus kasih kesempatan buat yang lain, oke?"
"Oke, makasih juga untuk anda dan pendengar semuanya, selamat sore,"
"Baik selamat sore, bye-bye De!"
saya bergegas mandi dan memilih pakaian terbaik saya. bersiap-siap dan mengecheck kembali dandanan saya. apa mungkin saya kelihatan terlalu formal? tapi walaupun saya diundang ke rumahnya, saya harus tetap berpakaian sopan.
setelah saya siap dan pede dengan pakaian saya, saya langsung mengemudikan mobil dengan cepat seakan tak sabar bertemu dengan bidadari saya. dan tanpa sadar kalau saya terlalu cepat dari waktu yang telah dijanjikan.
dengan sedikit agak ragu, saya turun dan mengetuk pintu rumah mungil itu namun terkesan elegan. tentulah ini rumah yang bergaya minimalis dan hanya ditempati oleh seorang wanita cantik bernama Sabrina, batinku. pintu yang kuketuk tak lama pun terkuak. kulihat wanita dewasa yang cantik membukanya dan dengan senyum khas nya, dia menyapa saya.
"Hai," sapanya.
"Hai, ehmm maaf.."
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena saya terlalu cepat datang ke rumah anda,"
"Hehehe, nggak apa-apa lagi, aku udah nungguin daritadi kok. malahan aku pengen kamu cepet dateng," ujarnya riang dan membuat aku terkejut, inikah Sabrina yang kukenal seminggu lalu? Sabrina yang awalnya penuh dengan keseriusan dan kecanggungan, kini tersenyum dan tertawa renyah. Saya tak percaya hal ini, semakin membuat saya ingin memilikinya.
"Hehe, ini saya bawakan seikat bunga untuk anda,"
"...Bagus banget bunganya, harum lagi, makasih yah, Den."
"Iyah sama-sama,"
"Yuk kita masuk, oyah...sebelum aku lupa, aku mau minta sesuatu lagi nih sama kamu,"
"Apa itu?"
"Aku ingin suasana sekarang ini santai, jadi bisa nggak kamu nggak pake bahasa formal gitu?"
"Ehmm maaf yah, saya...Ehmm maksudnya aku...udah terbiasa gitu di rumah,"
"Sama orang tua kamu juga gitu?"
"Hmm, orang tuaku di Amerika,"
"Oh gitu..."
"Mereka nggak pernah ada di Indonesia. Sejak umurku lima belas tahun, aku udah hidup mandiri dengan pembantu di sini,"
"Ehmm maaf yah Den, aku nggak tau..."
"Nggak apa-apa. Oh ya, orang tua kamu mana?"
"Hehehe, sebenrnya aku juga gitu kok...Orang tuaku lagi di Kanada. Mereka sibuk terus sama bisnis mereka, aku tinggal sendirian sama pembantu juga. Tapi pembantuku lagi pulang kampung. jadinya aku sendirian deh sekarang,"
"Oh gitu, jadi kita sama-sama kesepian dong yah,"
"Hehehe, iyah begitu lha. Eh, makan yuk aku udah laper nih,"
"Oke,"
makan malam yang romantis berjalan dengan sukses, Sabrina benar-benar memberi warna baru dalam hidupku. dia mampu membuat aku berpikir luas dan tidak hanya menikmati kesepianku sendiri. tapi membaginya dengan orang lain. yang disebut dengan sahabat, teman dan pacar. aku tidak sadar bahwa aku terlalu kaku. aku terlalu feodal. padahal orang tuaku cinta dengan didikan luar negeri, yang membebaskan segalanya. tapi aku begitu mengekang diriku.
Sabrina benar-benar meyakinkan hatiku tentang rasa suka ini. aku sangat menyukainya. apa terlalu cepat bila menyatakannya sekarang? batinku.
"Rin, kamu udah punya pacar?"
"Pacar? Hehehe, gimana yah..."
"Cewek secantik kamu pasti udah punya pacar,"
"Yah aku udah punya pacar, tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku...lagi tergoda dengan sosok lain. Dan aku nggak tau apa aku salah atau nggak, makanya aku datang ke kantor kamu waktu itu. Ingin konsultasi masalah ini,"
"Apa ada orang lain lagi yang kamu sukai?"
"Iyah, orang itu sangat menarik buatku. Dia bisa membuat aku lebih nyaman daripada pacar aku, jadi aku pengen selalu sama orang itu terus,"
"Hmm...nggak ada harapan..'
"Apa?"
"Ehmm maksud saya...ehh maksudku...aku..."
"Kamu aneh banget deh Den," ujarnya seraya mendekat ke arahku.
"Rin, aku..."
"Kamu kenapa? Sakit?" ujarnya sambil meraba keningku.
"Rin, aku...suka..."
"Suka apa? Suka sakit tiba-tiba?"
"Bukan...aku...suka...k..."
"Suka apa sih, Den?"
"Suka kesepian," ujarku berbohong dan benar-benar keluar dari arah pembicaraan.
"Aku juga Den, aku kesepian banget, tapi...karena ada orang itulah aku bisa survive," ujarnya sambil bersandar manja di lenganku.
"Rin...boleh aku jujur?"
"Uhmm tentu saja, apa itu?"
"Aku...ingin lebih dekat dengan kamu,"
"Hehehe, tentu ajah kita udah dekat Den, aku ngerasa nyaman deket kamu, aku pengen curhat semuanya ke kamu,"
"Bukan..maksud aku.." seraya membenarkan posisi dudukku, aku menatap wajahnya, tapi entah karena grogi atau apa, badanku tiba-tiba hilang keseimbangan dan hampir terjatuh, tapi Sabrina menolongku dan membuat kami berhadapan dengan sangat dekat.
"Den..." bisiknya.
"I...iy...iya..."
"Kaki aku sakit kena kaki kamu,"
"Ohh maaf....maaf aku nggak sengaja,"
"Hehehe, nggak apa-apa,"
dengan menahan malu, aku pamit pulang. inginnya aku mencium lekuk bibir indah itu, tapi apa yang aku lakukan, malah membuat suasana malam ini makin canggung. Sabrina, ternyata sudah ada seseorang di hati kamu. Sudah ada yang membuat kamu jatuh cinta. Apa masih bisa aku meneruskan perasaan ini?
hari demi hari berlalu dari malam itu. Tidak ada kabar dari Sabrina, ingin meneleponnya pun tidak ada keberanian. apa dia sedang sibuk dengan orang yang kamu sukai? kenapa ada banyak pertanyaan yang muncul di benakku? kenapa aku resah sendiri? kenapa sebagai seorang psikolog, aku tidak bisa menenangkan hatiku sendiri?
lama aku bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, ponselku berdering. Deg! jantungku berdegup, Sabrina! apakah ini jawaban dari segala pertanyaanku?
"Halo?" ujar suara di seberang sana sambil terisak.
"Halo, Sabrina? Kenapa kamu..."
"Tolong aku Den, tolong datang ke rumahku sekarang!"
"Iya tapi ada apa?"
"Cepat datang, Den!"
telepon pun tertutup. aku dengan panik dan takut menuju mobil dan melaju dengan cepat. dia pasti sedang membutuhkanku. kupacu kecepatan mobilku hingga 100km/jam. sampailah aku di rumah Sabrina. aku lihat pintunya tidak terkunci. dan keadaan rumah yang berantakan.
"Sabrina....!"
"Den...ah tolong..."
aku begitu kaget melihat wajah cantik itu kini penuh memar dan berdarah. bahkan bukan hanya itu yang mengejutkanku, Sabrina tak memakai baju sehelai pun di badannya. sebenarnya ada apa? batinku.
"Kamu kenapa, Rin?"
"Ebi...datang ke rumah dan marah-marah..."
"Ebi? Siapa dia?"
'Dia orang yang aku sukai,"
"Lalu?"
"Dia cemburu dengan Erik, pacarku. Dia cemburu....dan..."
"Ssstt...udah jangan diteruskan, sini aku bersihin luka-luka kamu dulu. Aku pakein kamu baju yah
Connect me with Your ideas
haiii thiss is my blog,,
full of my story..
enjoy it...
and if u have any idea, please share and we can share each other
full of my story..
enjoy it...
and if u have any idea, please share and we can share each other
Rabu, 21 Juli 2010
my room
Banyak orang menginginkan pasangan.
Mendambakannya hingga kadang memujanya.
Semua untuk menempati ruang kosong dalam hati.
begitu juga dengan blog ini.
begitu kosong dan berharap akan selalu terisi dengan hidup, perjalanan dan cinta.
setiap profesi memiliki ruang untuk bekerja.
begitupun diriku.
inilah ruanganku, untuk mengerjakan segala keinginanku.
yang mungkin dalam dunia nyata tak bisa ku wujudkan,
namun aku begitu beruntung memiliki ruang khayalan.
selamat menikmati semuanya
i love u all
Mendambakannya hingga kadang memujanya.
Semua untuk menempati ruang kosong dalam hati.
begitu juga dengan blog ini.
begitu kosong dan berharap akan selalu terisi dengan hidup, perjalanan dan cinta.
setiap profesi memiliki ruang untuk bekerja.
begitupun diriku.
inilah ruanganku, untuk mengerjakan segala keinginanku.
yang mungkin dalam dunia nyata tak bisa ku wujudkan,
namun aku begitu beruntung memiliki ruang khayalan.
selamat menikmati semuanya
i love u all
Langganan:
Postingan (Atom)